The Lightning War

Perang dunia dua adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang paling kelam yang pernah terjadi di dunia pada awal abad ke-20. Perang ini melibatkan hampir seluruh negara di dunia terutama di daratan eropa. Perang dunia kedua merupakan perang lanjutan dari perang dunia kesatu yang diawali oleh serangan Jerman ke Polandia pada 1 September 1939.

 

92821486

 

( What Helped Cause the Conflict of WW2? | Education – Seattle PI, Education – Seattle PI, Hitler’s actions and policies led to WWII. Picture From : https://education.seattlepi.com/helped-cause-conflict-ww2-6697.html )

 

Jerman dengan Nazinya yang dipimpin oleh Adolf Hitler menggelorakan kembali semangat Pan-Jermanisme, sebuah keinginan untuk menyatukan seluruh daerah berbahasa Jerman kedalam sebuah negeri Jerman Raya. Semangat ini juga dilatarbelakangi oleh politik balas dendam sebagai akibat munculnya rasa terhina oleh Jerman atas Perjanjian Versailles yang membuatnya harus tunduk pada keinginan Prancis dan Sekutu.

Lebensraum ‘ruang hidup’ merupakan sebuah prinsip ideologi ekspansionis Nazi yang menginginkan tanah dan bahan mentah untuk kelangsungan hidup rakyat berdarah Jerman. Akibatnya negara-negara tetangga seperti Polandia, Ukraina, dan Cekoslovakia diinvasi oleh Jerman.

1 September 1939, Jerman menyerang Polandia dengan sebuah taktik perang baru yang disebut  Blitzkrieg (dalam bahasa inggris disebut The Blitz) yang berarti perang kilat. Serangan ini membutuhkan mesin-mesin perang yang terus bergerak, pesawat tempur yang menguasai udara serta pasukan infantri besar yang terus bermanuver. Serangan semacam ini akan membuat musuh terkejut, kesulitan berkordinasi sehingga mudah dipojokkan. Inilah yang membuat pasukan Jerman saat itu dengan mudah menggilas Polandia. Dengan taktik Blitzkrieg Jerman juga berhasil menghancurkan Belgia, Belanda, dan Perancis pada 1940.

Serangan semacam ini merupakan sebuah taktik yang baru pada saat itu, dimana sebelumnya pada perang dunia satu taktik yang digunakan adalah strategi perang parit. Para prajurit bertahan di dalam parit dan terus berusaha merebut parit lawanya.

Strategi blitzkrieg ini sangat tergantung keberaan unit-unit tank ringan yang didukung pesawat tempur dan infantri. Dasar taktiknya adalah doktrin “Schlieffen Plan” yang diuraikan Panglima Militer Kekaisaran Jerman Alfred von Schliefen, yang intinya adalah taktik perang yang bertujuan mencapai kemenangan dengan cepat.

10 Mei 1940, Jerman mengalihkan pasukannya ke Perancis, Belgia, dan Belanda. Perancis saat itu didukung oleh militer yang cukup kuat ditambah dengan jaringan benteng Maginot Line sepanjang perbatasannya dengan Jerman. Namun, Jerman dengan taktik blitzkriegnya dapat menerobos Maginot Line, yang sebelumnya diklaim tidak bisa ditembus, dan langsung merangsek ke wilayah Perancis.

Troops_of_51st_Highland_Division_march_over_a_drawbridge_into_Fort_de_Sainghain_on_the_Maginot_Line_3_November_1939._O227

(The Maginot Line – 11 Fascinating Facts About France’s Great Wall …, MilitaryHistoryNow.com, The Maginot Line – 11 Fascinating Facts About France’s Great Wall. Picture from : https://militaryhistorynow.com/2017/05/07/the-great-wall-of-france-11-remarkable-facts-about-the-maginot-line/)

Nasib Belanda dan Belgia tak jauh berbeda dengan Perancis dan Polandia, mereka tidak kuasa menahan serangan Blitzkrieg dari Jerman. Selain diterapkan untuk menyerang Polandia, Perancis, Belanda, dan Belgia, taktik ini juga digunakan Jerman untuk menyerbu London, Inggris.

Serangan Jerman terhadap London dimulai pada siang hari tanggal 7 September 1940. Kemudian serangan ini dilanjutkan di malam harinya mengunakan taktik Blitzkrieg. Meskipun penggerebekan itu menyebabkan kehancuran besar dan korban sipil yang berat, mereka hanya memiliki sedikit pengaruh pada kemampuan Inggris untuk melanjutkan perang dan gagal dalam tujuan langsungnya untuk mendominasi langit dalam persiapan untuk Jerman invasi ke Inggris.

Serangan udara ini sulit diatasi oleh Inggris karena Inggris tidak memiliki artileri dan lampu sorot anti-pesawat terbang yang efektif, serta pasukan malam yang dapat menembak jatuh sebuah pesawat dalam kegelapan. Alhasil, London menjadi serangan empuk Luftwaffe selama 76 malam berturut-turut.

The Blitz di London berakhir pada Mei 1941 ketika Hitler memutuskan untuk menginvasi Uni Soviet. Luftwaffe tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan perang dua front, dan pesawat Jerman dipindahtugaskan ke timur. Serangan terhadap London pusat menyebabkan jumlah korban tertinggi dalam pertempuran malam ini: 1.364 tewas dan 1.616 terluka parah.

Akhir dari The Blitz ini adalah ketika Jerman menggelar Operasi Barbarossa untuk melawan Uni Soviet. Walaupun pada awalnya The Blitz ini sukses dan hampir mengalahkan pertahanan tentara Uni Soviet namun, mesin-mesin perang Jerman tak kuasa menghadapi musim dingin yang mematikan di daerah Uni Soviet. Hal ini dikarenakan perhitungan yang salah dari Adolf Hitler sehingga operasi ini berjalan lebih lama dari perencanaan sampai musim dingin turun. Namun, tentara Jerman tidak dibekali dengan perlengkapan musim dingin yang memadai

 

 

 

 

Sources :

  1. https://internasional.kompas.com/read/2014/09/01/23372911/75.Tahun.Lalu.Militer.Jerman.Kejutkan.Dunia.dengan.Blitzkrieg.?page=all. Diakses pada 5 Mei 2019, pukul 1:38
  2. https://tirto.id/serangan-jerman-ke-polandia-sulut-perang-dunia-ii-cx1p Diakses pada 5 Mei 2019, pukul 1:38
  3. https://www.seniberpikir.com/sejarah-terjadinya-perang-dunia-ii/ Diakses pada 5 Mei 2019, pukul 1:38
  4. https://www.britannica.com/event/the-Blitz Diakses pada 5 Mei 2019, pukul 2:01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s